AGROWIRA

Loading

Pemanasan Global, Krisis Air Tawar, dan Peran Petani dalam Konservasi Lingkungan Hidup di Indonesia

Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim global. Pemanasan global telah membawa sejumlah tantangan, termasuk krisis air tawar yang semakin memprihatinkan. Namun, ada peran penting yang bisa dimainkan oleh petani dalam upaya konservasi lingkungan hidup untuk menghadapi tantangan ini.

Pemanasan Global dan Krisis Air Tawar di Indonesia

Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata Bumi yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca. Dampaknya sangat terasa di Indonesia, dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut yang mengancam pulau-pulau pesisir.

Salah satu dampak yang paling nyata adalah krisis air tawar. Sumber daya air tawar yang semakin berkurang disebabkan oleh polusi, deforestasi, dan perubahan iklim, mengancam pasokan air bagi masyarakat, pertanian, dan industri. Dalam beberapa dekade terakhir, penurunan kualitas dan kuantitas air tawar menjadi perhatian serius.

Peran Petani dalam Konservasi Lingkungan Hidup

Petani adalah pemain kunci dalam konservasi lingkungan hidup di Indonesia. Mereka memiliki peran strategis dalam menjaga sumber daya alam, khususnya air tawar, melalui praktik pertanian berkelanjutan. Berikut beberapa kontribusi penting petani dalam upaya konservasi lingkungan hidup:

Pertanian Berkelanjutan

Petani dapat mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan seperti penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan untuk mengurangi dampak negatif pertanian terhadap sumber daya air dan lingkungan.

Konservasi Tanah

Petani dapat menjaga kualitas tanah dengan mencegah erosi dan degradasi tanah. Tanah yang sehat berkontribusi pada penyerapan air yang lebih baik dan menjaga kualitas air tawar.

Pengelolaan Hutan

Beberapa petani juga memiliki lahan hutan atau hutan rakyat. Dengan menjaga hutan ini, mereka dapat membantu dalam menjaga kualitas air dan menjaga ekosistem yang sehat.

Penggunaan Varietas Tanaman Tahan Iklim

Petani dapat memilih varietas tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim untuk mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.Kemitraan dengan Lembaga Lingkungan: Petani dapat bekerja sama dengan lembaga lingkungan hidup dan pemerintah dalam program konservasi air dan lingkungan hidup.

Kesimpulan

Pemanasan global dan krisis air tawar adalah masalah serius di Indonesia, tetapi petani memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan hidup dan menghadapi tantangan ini. Melalui praktik pertanian berkelanjutan dan konservasi sumber daya alam, mereka dapat berkontribusi pada pemeliharaan sumber daya air tawar yang sangat dibutuhkan bagi masa depan negara ini. Upaya bersama antara petani, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk mengatasi tantangan ini dan melindungi lingkungan hidup Indonesia.

Pupuk Organik Tidak Hanya Menyuburkan Tanah Melalui Zat Hara, Tetapi Meningkatkan Aktivitas Organisme Tanah Untuk Sintesa Unsur Hara dan Pengikatan Emisi Karbon

Manfaat Pupuk Organik Bagi Lahan Pertanian

Sobat Agrowira, sejak mula munculnya aktivitas pertanian sampai tahun 1850, pupuk organik umumnya digunakan untuk menyuburkan tanah pertanian. Selain menambah unsur hara makro dan mikro di dalam tanah, pupuk organik juga terbukti sangat baik dalam memperbaiki struktur tanah pertanian.

Kelebihan pupuk organik diantaranya adalah:

Memperbaiki Struktur Tanah

Hal ini terjadi karena organisme tanah saat penguraian bahan organik dalam pupuk bersifat sebagai perekat dan dapat mengikat butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih besar.

Menaikkan Daya Serap Tanah Terhadap Air

Bahan organik memiliki daya serap yang besar terhadap air tanah. Itulah sebabnya pupuk organik sering berpengaruh positif terhadap hasil tanaman, terutama pada musim kering.

Menaikkan Kondisi Kehidupan di Dalam Tanah

Hal ini terutama disebabkan oleh organisme dalam tanah yang memanfaatkan bahan organik sebagai makanan. Oleh karena itu, pupuk organik seperti pupuk kandang yang diberikan pada tanah harus diuraikan terlebih dahulu oleh jasad renik melalui proses pembusukan atau peragian sebelum diserap oleh akar tanaman. Dari proses pembusukan ini, jasad renik memperoleh makanan dan sumber tenaga. Semakin banyak pupuk organik yang diberikan maka semakin banyak pula jasad renik dalam tanah.

Sebagai Sumber Zat Makanan Bagi Tanaman

Pupuk organik mengandung zat makanan yang lengkap meskipun kadarnya tidak setinggi pupuk anorganik. Namun cara kerjanya agak lambat dibandingkan pupuk anorganik. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil maksimal, pemakaian pupuk organik hendaknya diimbangi dengan pupuk anorganik agar keduanya saling melengkapi. Dengan demikian akan tercipta tanah pertanian yang kaya zat hara, strukturnya gembur atau remah dan berwarna cokelat kehitaman.

Compost Under The Microscope

Global Warming dan Konflik Perebutan Sumber Daya Air Tawar Pertanian

Sobat Agrowira, bencana kekeringan semakin menghantui pertanian di berbagai belahan dunia. Hal ini disebabkan oleh dampak pemanasan global yang semakin signifikan mengakibatkan menipisnya cadangan air tawar akibat berbagai faktor seperti penggundulan hutan (deforestasi), pengeboran dan penggunaan air tanah artesis secara berlebihan oleh industri dan rumah tangga, perubahan laju debit air akibat pembangunan bendungan pembangkit tenaga air untuk kebutuhan listrik, serta meningkatnya laju penguapan air akibat peningkatan suhu muka bumi di berbagai danau dan reservoir air tawar.

Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan air tawar bagi umat manusia sangatlah besar. Berdasarkan data IFRC yang dikutip dari DW, Pada kenyataannya 97,5 % air di bumi adalah air laut dan air payau yang tidak dapat diminum. Sisanya 2,5% adalah air tawar. Dari sisa 2,5% tersebut yang merupakan sumber air yang dapat dipakai manusia hanyalah 0.003% saja, karena sebagian besar air tawar di bumi tersimpan dalam bentuk es dan gletser atau endapan salju.

Meskipun air pada dasarnya memiliki siklus pembaharuan alami, sayangnya banyak daerah-daerah yang tidak dapat lagi menyimpan air dengan jumlah dan kualitas yang mencukupi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan akan air bersih dan menurunnya cadangan air. Meningkatnya kebutuhan akan air bersih di seluruh dunia tak lepas dari pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya standard hidup. Sementara pencemaran lingkungan dan perubahan iklim ikut menyebabkan menurunnya cadangan air bersih bumi.

Pertanian sangat mutlak membutuhkan air tawar yang berasal dari berbagai sumber. Di berbagai daerah di Indonesia, irigasi pertanian umumnya didapatkan dari sumber air tawar berupa sungai, sumur, danau, waduk, mata air pegunungan dan di daerah perkotaan juga menggunakan air bersih dari jaringan pipa air PDAM. Semua sumber air irigasi ini saat ini terancam kekurangan karena juga dibutuhkan oleh masyarakat untuk kehidupan dan industri.

Konflik Kekurangan Air Tawar di Dunia Saat Ini

Pada beberapa daerah di dunia, kekurangan air bahkan menjadi penyebab konflik. Di Asia Tengah misalnya, menurunnya kesehatan akibat buruknya kualitas air telah menyebabkan kerusuhan sosial. Di daerah Kenya Utara dan Darfur terjadi bentrok antara para petani dan kaum nomaden akibat perebutan sumber air.

Di Chili, pertanian Avokado (Alpukat) yang dilakukan secara monokultur telah menyebabkan kekeringan sungai dan sumber air lainnya bagi penduduk sekitar. Perlu diketahui bahwa tanaman alpukat adalah salah satu jenis tanaman yang membutuhkan air sangat besar. Dibutuhkan 320 Liter air tanah atau air permukaan segar untuk memproduksi buah pada 1 pohon alpukat yang menjadi komoditas pertanian favorit dunia tersebut. Hal ini telah mengakibatkan persaingan sengit perebutan air antara petani dengan masyarakat yang mencuat hingga ke pemerintahan setempat. Hal serupa juga telah terjadi pada pertanian blueberry di Peru.

Mengenal Siklus Nitrogen Pada Tanaman

Siklus Nitrogen pada Tanah dan Tanaman

Nitrogen, Tanaman dan Lingkungan

Nitrogen (N) sangat penting dalam kebutuhan dilahan pertanian. Ketika terjadi kekurangan unsur hara N, sistem perakaran tanaman dan pertumbuhan tubuh tanaman menjadi kerdil, daun tua berubah menjadi kekuningan, dan hasil buah pada tanaman akan mengandung sedikit sekali protein kasar. Ketika terjadi kelebihan unsur N, tanaman akan mengalami keterlambatan proses pematangan dan pertumbuhan vegetatifnya akan berlebihan. Pupuk Nitrogen merupakan barang yang mahal di pasaran, dan apabila tercuci bisa memberikan dampak negatif kepada lingkungan. Mengefisiensikan penggunaan pupuk nitrogen sesuai kebutuhan tanaman serta menghindari  pemberian secara berlebihan adalah sangat penting untuk dilakukan.

Siklus Nitrogen

Siklus daur unsur nitrogen di lahan pertanian menunjukkan bagaimana unsur N dari kotoran hewan, pupuk kimia, dan tanaman mengalir di dalam tanah menuju ke tanaman, air dan udara. Dengan memahami siklus nitrogen, akan memberikan Anda pemahaman mengenai penggunaan terbaik antara Kotoran Hewan (Manure) dengan Pupuk Kimia (Fertilizer) untuk memenuhi kebutuhan tanaman serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Secara umum siklus nitrogen di alam terdiri atas 3 (tiga) runtutan langkah yaitu:

  1. Fiksasi
  2. Mineralisasi
  3. Nitrifikasi

Ketiga langkah dalam proses siklus daur nitrogen tersebut memperkaya kebutuhan unsur nitrogen bagi tanaman. Sedangkan,

  1. Denitrifikasi
  2. Volatilisasi
  3. Immobilisasi
  4. Leaching / Pencucian

Keempat langkah tersebut diatas akan mengakibatkan pengurangan atau bahkan kehilangan secara permanen unsur Nitrogen dari zona akar ( _root zone_ ) tanaman.

MINERALISASI

Adalah proses yang dilakukan oleh mikroba untuk mengurai N organik dari kotoran hewan, material organik dan sisa tanaman menjadi bentuk Amonium. Karena ini merupakan proses biologis, kecepatan dan kadar mineralisasinya akan sangat bervariasi tergantung suhu tanah, kelembaban tanah, dan jumlah oksigen yang terkandung di dalam tanah ( _aerasi_ ).

Secara kimia, proses ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

R-NH2 ( Nitrogen Organik ) –> NH3 ( Amoniak ) –> NH4+ ( Ammonium)

Proses mineralisasi hanya bisa terjadi dengan syarat pada kondisi tanah yang hangat ( 20 – 35 Celsius), kondisi tanah yang beraerasi dan memiliki kelembaban yang baik.

NITRIFIKASI

Adalah proses yang dilakukan oleh mikroorganisme mengubah Amonium menjadi Nitrat untuk menghasilkan energi. Nitrat adalah bentuk unsur Nitrogen (N) yang paling mudah diserap tanaman, namun sangat mudah sekali hilang tercuci ( Leaching ).

Secara kimia, proses biologis ini dapat dijabarkan hasil akhirnya sebagai berikut:

NH4+ (Ammonium) –> NO2 (Nitrit) –> NO3 (Nitrat)

Proses nitrifikasi terjadi lebih cepat pada saat kondisi tanah hangat (20 – 35 Celsius), lembab dan beraerasi baik. Laju proses biologi ini akan terhenti (istirahat) pada saat kondisi tanah dibawah 5 Celsius atau diatas 50 Celsius.

DENITRIFIKASI

Adalah proses hilangnya unsur N melalui konversi nitrat menjadi bentuk gas Nitrogen, contohnya menjadi bentuk oksida seperti Nitric Oxide, Nitrous Oxide Dinitrous Oxide. Ini terjadi ketika kondisi tanah jenuh dan bakteri kemudian menggunakan nitrate sebagai salah satu sumber oksigen.

Secara kimia, proses biologis ini dapat dijabarkan hasil akhirnya sebagai berikut:

NO3 (Nitrate) –> NO2 (Nitrit) –> NO (Nitric Oxide) –> N2O (Nitrous Oxide) à N2 (Dinitrogen Gas)

Proses denitrifikasi biasanya terjadi pada tanah yang memiliki drainase buruk.

VOLATILISASI

Adalah proses kehilangan nitrogen melalui konversi / perubahan amonium menjadi gas amoniak, yang kemudian dilepaskan ke udara. Proses kehilangan nitrogen secara volatilisasi lajunya semakin meningkat pada kondisi tanah yang memiliki pH tanah tinggi dan tanah yang mudah kehilangan air (evaporasi) contohnya pada kondisi panas dan berangin.

Secara kimia, proses kehilangan nitrogen secara volatil ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

CH4N2O ( _Urea_ ) –> NH4+ (Ammonium) –> NH3 (Amoniak)

Kehilangan volatil sangat tinggi pada kotoran hewan ( _manures_ ) dan pupuk urea yang diaplikasikan dipermukaan tanah terbuka yang tidak dibarengi dengan penggemburan atau penghujanan pada tanah.

Kotoran hewan mengandung unsur N dalam dua bentuk utama: Ammonium dan N organik. Jika kotoran hewan pada saat dipalikasikan dibiarkan terbuka dilahan pertanian dalam waktu satu hari, 65% kandungan Amonium akan bertahan. Namun jika dibiarkan dalam waktu lima hari unsur N amonium dalam kotoran hewan akan hilang. N organik pada kotoran hewan tidak akan hilang melalui proses volatilisasi ini, namun membutuhkan waktu untuk mengalami mineralisasi sehingga dapat dikonsumsi tanaman.

IMMOBILISASI

Adalah kebalikan dari proses mineralisasi. Semua makhluk hidup membutuhkan unsur N, termasuk mikro organisme di tanah pun berkompetisi dengan tanamn untuk mendapatkan unsur N. Immobilisasi terkait dengan proses dikonsumsinya unsur nitrat dan ammonium oleh organisme tanah sehingga menjadi tidak bisa dikonsumsi oleh tanaman.

Secara kimia, proses kehilangan nitrogen secara biologis ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

NH4+ ( Ammonium ) dan / atau NO3 ( nitrat ) –> R-NH2 (N Organik)

Penggabungan material dengan kadar rasio Karbon – Nitrogen (C/N ratio) yang tinggi (Contoh: serbuk kayu, jerami, dsb) , akan meningkatkan aktifitas biologi dan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan N, akhirnya menghasilkan immobilisasi.

Immobilisasi hanya mengunci sementara unsur N, ketika mikroorganisme mati, unsur N organik yang dikandung dalam sel akan diubah kembali melalui proses Mineralisasi dan Nitrifikasi sehingga menghasilkan unsur Nitrat yang dapat dikonsumsi tanaman.

LEACHING

Adalah tercucinya unsur N dalam konsentrasi yang tinggi sehingga berdampak pada kualitas air. Partikel tanah tidak bisa menahan nitrat, karena muatan atom negatifnya. Sebagai akibatnya, nitrat mudah sekali terbawa air dalam tanah. Laju pencucian / leaching tergantung pada kondisi drainase tanah, curah hujan, jumlah nitrat di dalam tanah, dan konsumsi tanaman ( uptake )

Standar EPA mensyaratkan nilai maksimum 10ppm N dalam air minum yang telah terkontaminasi nitrat untuk dapat dikonsumsi dengan aman.

CROP UPTAKE / Konsumsi Tanaman

Adalah tujuan utama dari manajemen nitrogen dilahan pertanian. Efisiensi terbaik akan muncul ketika sejumlah unsur N diberikan secara tepat dalam satu waktu ketika tanaman secara aktif membutuhkannya. Efisiensi N hanya tergantung pada beberapa faktor termasuk suhu, kelembaban tanah, tekanan hama, dan pemadatan tanah ( soil compaction )

Penggunaan secara efisiens unsur Nitrogen selama musim tanam dan penggunaan tanaman penutup (cover crop) dapat meminimalkan kehilangan unsur nitrogen dalam tanah.

Tujuan utama dari manajemen Nitrogen adalah untuk memaksimalkan efisiensi N dengan cara meningkatkan *CROP UPTAKE* dan meminimalkan kehilangan N di lapangan. N tanaman bisa dipenuhi melalui sumber N yang sudah ada (Contoh: dari unsur organik tanah, bawaan tanah, dan kotoran hewan yang telah diberikan) dan aplikasi tambahan N melalui pupuk organik dan kimia.

Untuk cara terbaik aplikasi penggunaan sumber N yang sudah ada dilahan ataupun pembelian pupuk kimia, pertimbangkanlah fakta dari siklus N berikut:

  1. N yang dilepaskan dari tanah mati, melalui mineralisasi dan nitrifikasi kebanyakn bisa men-supply cukup N
  2. Metode dan waktu pemberian kotoran hewan ( manures ) dan pupuk kimia menentukan ketersediaan nitrogen untuk tanaman, namun juga berpotensi kehilangan. Aplikasi kombinasi penebaran kotoran hewan dan pupuk kimia yang dilakukan secara cepat di lapangan dapat menjaga kandungan amonium dari kehilangan N volatil.
Verified by MonsterInsights